Monday, April 13, 2009

TERIAK

Ini cerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada
penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang
letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang
tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni
meneriaki pohon. Untuk apa ? Kebisaan ini ternyata mereka
lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat
kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Inilah yang mereka lalukan, jadi tujuannya supaya pohon
itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat
dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu.

Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk
yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya
kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama
kurang lebih empat puluh hari. Dan, apa yang terjadi sungguh
menakjubkan.

Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai
mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga akan mulai rontok
dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif
ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka.
Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan
terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan
benda tersebut kehilangan rohnya.

Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati.
Nah, sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan
penduduk primitif di kepulauan Solomon ini ? O, sangat
berharga sekali! Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap
kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti
Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda?
- Ayo cepat!
- Dasar lelet!
- Bego banget sih! Begitu aja nggak bisa dikerjakan?
- Jangan main-main disini!
- Berisik !

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup
Anda karena Anda merasa sakit hati?
- Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu, tahu nggak!
- Bodoh banget jadi bini nggak bisa apa-apa !
- Aduuuuh, perempuan kampungan banget sih!?
- Dasar laki gak punya nyali, ngapain lu jadi suami, nggak becus!

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya :
- Stupid,
- soal mudah begitu aja nggak bisa!.
- Kapan kamu mulai akan jadi pinter?

Atau seorang atasan berteriak pd bawahannya saat merasa kesal :
- Eh tahu nggak? Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku kagak
bakal nyesel! Ada banyak yang bisa gantiin kamu!
- Sial! Kerja gini nggak becus? Ngapain gue gaji elu?

Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena
merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang
diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari
kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan
roh pada orang yang kita teriaki. Kita juga mematikan roh yang
mempertautkan hubungan kita.

Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita,
perlahan-lahan pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan
hubungan kita.

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik,
cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan.
Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang
yang jauh jaraknya, bukan ?

Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional,
mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa
belas centimeter.

Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik
mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begitu jauh. Itulah
sebabnya mereka harus saling berteriak!

Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai
berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi kerena
perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki.
Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh
pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak
mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya
apabila Anda ingin segera membunuh roh orang lain ataupun roh
hubungan Anda, selalulah berteriak.

Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima.
Anda akan semakin dijauhi.
Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai,
tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.

Mereka yang bekerja hanya dengan otak tanpa menggunakan hati
nurani mereka, maka ia akan mendapat teman-teman kerja yang
mati hatinya

1 comment: